Saat Pandemi Covid-19, Rumah Paros Gelar Pameran Virtual 86 Karya Seni Rupa

Sabtu, 27 Juni 2020 : 20.06

GIANYAR (inibali.com): Di tengah pandemi covid-19, Rumah Paros menggelar pameran seni rupa secara virtual bertajuk “SahabArt” (Sahabat Seni) yang diikuti 86 seniman dari berbagai latar profesi.

Seniman yang juga pemilik Rumah Paros Made Kaek mengatakan pameran ini dimaksudkan untuk merayakan indahnya persahabatan seraya memaknai bekerja dan berkarya di rumah pada masa pandemi covid-19 ini.

Pameran virtual ini juga mengadopsi pemikiran sederhana tentang hubungan kemanusiaan yakni menjunjung rasa persahabatan yang telah banyak melahirkan interaksi serta membuahkan jejaring kerja yang positif dan kreatif.

“Di masa pandemi kami tidak lagi leluasa bisa bertemu, berdiskusi, berjabat tangan, apalagi cipika-cipiki, kami pun memilih untuk mengobati kerinduan dengan pameran bersama secara virtual,” kata Kaek di Rumah Paros, Banjar Palak, Sukawati, Gianyar, Sabtu (27/6/2020).

Pameran yang didukung Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini dibuka pada Senin 22 Juni 2020 lalu dengan pengantar oleh Gubernur Bali Wayan Koster dan Kadis Kebudayaan Bali Wayan Kun Adnyana melalui kanal Youtube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Para sahabat Paros diberikan kebebasan berkarya di atas kanvas berukuran 30 x 30 cm yang kini bisa dinikmati di akun Facebook dan Instagram @sahabartparos. Bisa pula disaksikan secara langsung di Rumah Paros, tentu dengan protokol kesehatan ketat seperti yang ditentukan oleh pemerintah.

“Kami juga menyediakan katalog elektronik yang menyajikan seluruh karya dengan prolog oleh bli Dewa Made Palguna, Hakim Mahkamah Konstitusi 2003-2008 dan 2015-2020) bisa diakses melalui link bio IG kami,” kata Kaek.


Menurut Kaek sejawat seniman yang ikut dalam pameran ini Made Wianta, Nyoman Erawan, Made Budhiana, Dewa Putu Kantor, Wayan Kun Adnyana, Djaja Tjandra Kirana, Mangu Putra, Wayan Redika, Suklu, Made Wiradana, Ipong Purnama Sidhi dan seniman asal Swiss Stephan Spicher.

Kemudian Wayan Suja, Galung Wiratmaja, Polenk Rediasa, Dewa Ratayoga, Nyoman Wijaya, AA Putu Oka Astika, Huda Fauzan, Made Duatmika, I Gede Jaya Putra, Nyoman Sani, Loka Suara, Teja Astawa, IB Sutama, Made Aswio Aji, Putu Eni Astiarini, Made Dwipayana, Ketut Sugantika Lekung, Wayan Upadana, Wayan Jana, Gde Ngurah Pandji, Wayan Wijaya, Nyoman Winaya.

Perupa lainnya adalah Made Karyana, Dewa Made Virayuga, Wayan Diana,Wayan Suardika Putra, Made Warjana, Putu Edy Asmara, Nyoman Ari Winata, Anthok Sudarwanto, Listya Wahyuni, Nengah Sujena, Made Palguna, Wayan Aris Sarmanta, Made Somadita, Made Gunawan, dan Uuk Paramahita.

Selanjutnya adalah Atmi Kristiadewi, Wayan Wirawan, Pande Alit Wijaya Suta, Made Alit Suaja, Wayan ‘Doel’ Sunadi, Ketut Jaya ‘Kaprus’, Romi Sukadana, Wayan Arnata, V. Dedy Reru, Sudarna Putra,  Ketut Endrawan, Nyoman Wirata, Putu Sudiana ‘Bonuz’, Made Mahendra Mangku, Dollar Astawa, Putu Wirantawan dan Nyoman Sujana Kenyem.

Selain itu juga diikuti oleh arsitek Popo Danes, budayawan Jean Couteau dan Putu Suasta, Konsul Kehormatan Italia Pino Confessa, dokter Kardi Neka, penyair Warih Wisatsana dan Wayan Jengki Sunarta, jurnalis Putu Fajar Arcana, Wayan Juniarta, dan Ema Sukarelawanto, fotografer Anom Manik Agung, Murdani Usman, dan Ulung Wicaksono, Drh. Yudha Bantono, pegusaha Handy Saputra, pegrafis Ayip Budiman (alm) dan SR Alwy, ilustrator Monez, serta kartunis Jango Pramartha dan IB Martinaya.

Kaek menambahkan kerinduan para sahabat untuk segera bertemu dan mengalirkan energi dengan berjabat tangan mustahil bisa dilakukan lagi. Pada titik inilah pameran virtual ‘SahabArt’ diharapkan mampu meretas keberjarakan tersebut. “Mari kita rayakan persahabatan seraya menyongsong harapan ke depan dengan spirit adaptasi baru, di era kernormalan baru,” katanya.(wan)