Sepanjang 2019, Wisatawan Australia Dominasi Kunjungan ke Bali

Rabu, 22 Januari 2020 : 20.13

Infografis: Bnadara Ngurah Rai
MANGUPURA (inibali.com): Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai mencatat 6.298.852 wisatawan dari seluruh dunia datang ke Bali melalui jalur udara sepanjang 2019.

General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Ngurah Rai Herry A.Y. Sikado mengatakan jika dibandingkan dengan periode pencatatan pada 2018 lalu yang tercatat 6.127.437 kunjungan, maka pada 2019 ini didapatkan angka pertumbuhan 3%.

“Senada dengan jumlah penumpang tahun 2019 yang tumbuh sebesar 2%, wisatawan mancanegara yang kami layani juga mengalami pertumbuhan sebesar 3% di tahun ini," katanya, Rabu (22/1/2020).

Menurut Herry ini merupakan hal yang sangat positif. Yang pertama, pesona dan daya tarik Bali bagi para wisatawan dunia masih sangat kuat, terbukti dengan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Kedua, di saat tren penurunan penumpang dan kunjungan wisatawan mancanegara di banyak bandar udara di Indonesia, kami masih mencatatkan pertumbuhan,” lanjutnya.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Cina sudah tidak lagi menduduki singgasana negara penyumbang wisatawan terbanyak yang datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai. Selama pencatatan tahun 2019, wisatawan Australia tercatat mengungguli jumlah wisatawan asal Negeri Tirai Bambu Cina.

“Untuk tahun 2019, jumlah wisatawan berpaspor Australia yang kami layani sebanyak total 1.230.133, mengungguli turis asal Cina, dengan jumlah sebanyak 1.196.497 jiwa. Ada selisih sekitar 33 ribu jiwa. Sementara posisi ketiga masih ditempati oleh wisatawan asal India dengan jumlah 377.543 wisatawan,” terang Herry.

Dibandingkan dengan 2018, wisatawan asal Australia tumbuh sebesar 4% di tahun 2019 ini. Begitu pula dengan jumlah kedatangan wisatawan berpaspor India, yang mengalami pertumbuhan sebesar 6%. Berbeda dengan kedua negara tersebut, jumlah kedatangan turis asal Cina mengalami penurunan yang cukup drastis, yakni sebesar 15%.

“Jika di tahun 2018 lalu jumlah wisatawan Cina yang kami layani berjumlah 1.380.687 jiwa, di tahun 2019 ini kami mencatat terdapat 1.230.133 wisatawan Cina yang datang ke Bali melalui bandar udara kami. Turun sebesar 15%. Cukup drastis,” lanjut Herry.

Secara jadwal penerbangan reguler, saat ini Bali terhubung dengan 7 bandar udara di Australia, serta 8 bandar udara di Cina. Tujuh bandar udara di Australia tersebut adalah Bandar Udara Perth, Sydney (Kingsford Smith), Adelaide, Brisbane, Cairns, Darwin, serta Melbourne-Tullamarine.

Sehari-hari, terdapat setidaknya 23 jadwal penerbangan reguler yang menghubungkan Bali dengan ketujuh bandar udara di Australia tersebut. Sebanyak 8 maskapai penerbangan, yaitu AirAsia, JetStar, Garuda Indonesia, Batik Air, Malindo Air, Citilink, Virgin Australia, dan Qantas, bergantian mengangkut ribuan wisatawan dari Australia setiap harinya.

Sedangkan 8 bandar udara di Cina yang terhubung dengan Bali adalah Bandar Udara Beijing Capital, Shanghai Pudong, Guangzhou Baiyun, Shenzhen Bao'an, Kunming Changshui, Xi'an Xianyang, Zhengzhou Xinzheng, serta Xiamen Gaoqi. Setidaknya, terdapat 8 penerbangan berjadwal yang melayani para wisatawan asal Cina menuju Bali. Sehari-harinya, terdapat 6 maskapai penerbangan yang terbang reguler dari dan menuju Cina, yaitu China Eastern, China Southern, Xiamen Airlines, Lion Air, Citilink, serta Garuda Indonesia.

Uniknya, walaupun menempati peringkat ketiga negara penyumbang wisatawan mancanegara terbanyak di Bali, saat ini tidak ada rute penerbangan reguler yang melayani penerbangan langsung dari India menuju Bali.

“Jika dilihat dari data bulanan, selama dua tahun terakhir ini puncak kedatangan wisatawan terjadi di rentang bulan Juni hingga September. Di tahun 2020 ini, kami optimis tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali akan terus meningkat. Di bulan Januari ini, setidaknya akan ada dua maskapai penerbangan yang membuka dua rute penerbangan internasional baru. Tentunya hal ini merupakan permulaan tahun yang sangat baik,” ujar Herry.

“Utamanya, di tahun 2020 ini, kami terus menerus berfokus untuk semakin meningkatkan pelayanan terhadap para penumpang, sehingga citra Bali dan bandar udara di dunia dapat semakin berkibar. Tentunya hal tersebut akan memiliki multiplier effect terhadap peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali,” tutup Herry. (wan)