Sambut Imlek, Denpasar Gelar Pawai Barongsai hingga Celuluk

Minggu, 26 Januari 2020 : 13.26

DENPASAR (inibali.com): Menyambut Imlek, Dinas Pariwisata Kota Denpasar menggelar pawai akulturasi budaya di kawasan warisan budaya, jalan Gajah Mada, Sabtu (25/1/2020).

Kegiatan dimulai pukul 18.00 Wita diawali dengan pawai brongsai,  barong macan, barong landung, barong bangkung, hingga celuluk.

Arak-arakan dimulai dari perempatan Jalan Sulawesi, menuju Gajah Mada, lanjut ke arah timur di depan panggung utama dengan prosesi membawa jempana.

Di depan panggung utama peserta langsung menarikan masing-masing tarian ciri khas mereka. Selain pertunjukan barong “Prosperity Celebration” ini juga dimeriahkan atraksi wushu, tarian celuluk, gamelan china, dan menyalakan petasan.

Bendesa Adat Denpasar AA Ngurah Rai Sudarma mengatakan pementasan ini digagas oleh Desa Adat Denpasar bersama 31 banjar adat di dalamnya.

"Prosperity Celebration" ini pertama kalinya digelar untuk membangkitkan kembali akulturasi budaya di kawasan Haritage City. Sebab, pada zaman kerajaan terdahulu ada 5 etnis yang memang menempati kawasan jalan Gajah Mada  yang masih bertahan sampai saat ini.

Kelima etnis tersebut, yakni etnis Bali yang diapit oleh Kerajaan Pemecutan dan Kerajaan Denpasar. Di tengah-tengahnya ada etnis China, Arab, Jawa dan Kampung Tinggi yang merupakan tempatnya para pendekar pada zaman dulu.

Rai Sudarma mengatakan, saat ini akulturasi mulai dibangkitkan kembali karena ada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali.

Dengan adanya Perda tersebut, Desa Adat Denpasar ingin kembali membangkitkan kembali akulturasi budaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa setiap etnis memiliki ciri khas budaya budaya yang masih kental sampai saat ini.

"Kami ingin membangkitkan dan mengingatkan kembali hubungan etnis China atau Tionghoa dengan etnis Bali serta etnis lainnya," ujarnya.

Kegiatan ini kata dia khusus diadakan di tengah-tengah kawasan Haritage City Jalan Gajah Mada Denpasar untuk kembali merekatkan hubungan antar etnis.

"Jika saat ini akulturasi budaya antara Bali dan China, yang diuntungkan semua etnis dari segi ekonomi karena banyak yang berbelanja. Itu yang kami inginkan juga, bahwa etnis itu tidak hanya berkaitan dengan agama, namun juga perpaduan budaya," jelasnya.

Ngurah Rai Sudarma mengatakan, dalam kegiatan ini melibatkan sekitar 5.000 peserta dari 31 banjar ditambah dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Denpasar. "Ke depan bukan hanya kegiatan pada peringatan tahun baru Imlek saja, namun juga momen hari raya untuk etnis lainnya di kawasan tersebut agar bisa dibuat yang sama. Ini kan baru pertama kali jadi kami harap terus berlanjut," imbuhnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar MA Dezire Mulyani mengatakan selain untuk memperingati Imlek dengan menumbuhkan toleransi, kegiatan tersebut juga untuk mengenalkan dan mem-branding keberadaan kawasan Haritage City sebagai tempat wisata yang akan dibuatkan tempat khusus sebagai pusat kuliner.

Kata dia, akulturasi budaya ini akan menjadi event sebagai ciri khas di kawasan Gajah Mada. Barong yang ditampilkan bukan merupakan barong sakral melainkan barong yang biasa digunakan dalam pertunjukan hiburan (bali-balihan). Sehingga dapat menunjang kawasan wisata dan kuliner di kawasan itu. (wan)