Rosita Pameran Tunggal di Strasbourg: Mempertemukan Budaya Dua Bangsa

Minggu, 15 September 2019 : 08.41
Perupa Rosita (dari kanan ke kiri), Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI untuk Perancis Prof Warsito, dan penulis.
KETIKA seorang perupa merasa perlu membawa persoalan yang berlatar budaya dalam konteks seni rupa, apa yang kemudian coba disampaikan pada publik? Itulah yang terjadi pada pameran tunggal Rosita Ujianti Yordey.  Dua budaya Indonesia dan Perancis menjadi spirit penting telah melahirkan karya-karyanya.

Pemandangan ruang pameran menjadi begitu indah, ada dialog di antara karya-karya lukisan Rosita yang hadir bukan saja memberikan nuansa estetika ruangan. Tetapi, lukisan-lukisan Rosita juga menjadi bahasa visual dalam bingkai dialog budaya.

Terdapat 23 karya dipamerkan di Hotel and Spa Bintang Lima Regen Petite France, Strasbourg yang seluruhnya dikerjakan di atas kanvas dengan materi kopi, cat minyak, dan akrilik. Karya dalam pameran bertajuk Un Esprit De Cultures ini layak dianggap sebagai presentasi yang berkaitan dengan spirit dua budaya yakni Perancis dan Indonesia, khususnya Bali. Pameran ini merupakan titik awal yang sangat penting bagi Rosita dalam bereksplorasi tentang dua budaya yang sangat ia cintai.

Pelukis yang memiliki nama Bali Ni Nyoman Rosita Ujianti menyelesaikan semua karya-karyanya dengan teknik finger painting. Teknik ini sebetulnya sudah umum yaitu mengoleskan cat atau media lukis pada jemari tangan di atas kanvas. Bagi Rosita melukis dengan jari-jemarinya akan lebih menyentuh pada wilayah rasa dan perasaanya.

Suasana pameran tunggal Rosita.
Ada hal menarik ketika menghubungkan kenapa Rosita lebih nyaman dengan teknik finger painting yaitu karena ia juga seorang penari. Sebagai penari Rosita sering merespon pesroalan dengan gerak, maka sangat wajar bila medium lukis ia respon dengan jemari tanggannya. Ini diakui olehnya bahwa di samping rasa dan perasaan membuatnya lebih responsif dalam menerjemahkan gagasannya. Dari jemarinya inilah seolah ia bagai menari dengan kanvas sebagai latarnya.

Intensitas Rosita dalam memahami persoalan spirit budaya dapat dilihat pada pemikirannya sebagai orang Bali yang berpegangan pada nilai-nilai luhur budaya Bali. Manifestasi pikiran itu nampak pada pernyataannya bahwa filosofi Tri Hita Karana selalu hadir dan menjadi bagian penting yang melandasi pemikiran dalam berproses menerjemahkan gagasan. Tak heran bila lukisannya dengan spirit alam, manusia dan sang pencipta hadir dengan tema keharmonisan atau keseimbangan.

Sedangkan pada beberapa karya lainnya, Rosita berhasil meletakkan lima elemen dasar penyusun kehidupan alam semesta termasuk manusia di dalamnya yakni Panca Maha Bhuta. Kelima unsur tersebut yakni tanah, air, udara, api dan ruang angkasa.

Perupa Rosita berfoto bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI untuk Perancis Prof Warsito dan para pendukung pembukaan pameran.
Berangkat dari spirit budaya Bali inilah Rosita kemudian berdialog dengan budaya Perancis sebagai laku yang separuh hidupnya ditambatkan di Perancis. Misalnya pada karya yang berjudul Esprit de la Snature (pirit alam), Jardin sauvage (Kebun liar), Les fleur (Musim berbunga), Me’moire de printemps (kenangan musim semi), La nature et moi (Saya dan alam), dan Harmoni de la nature (Alam harmoni) sangat terlihat bagaimana unsur alam menjadi pembicaraan penting.

Rosita juga mengusung karya yang berbicara tentang spirit dirinya sebagai orang Bali yakni karya Bayu Pinaruh, di mana ia ingin berbicara pada publik Perancis tentang penyucian diri dengan ilmu pengetahuan. Termasuk juga pada karya Visible & Invisible dan Taksu.

Ketika Gunung Agung di Bali yang mengalami erupsi pada 2017 ia mencatat melalui karya dalam seri Eruption. Bagi Rosita Gunung Agung adalah tempat sekaligus simbol spiritual tinggi bagi masyarakat Bali dan juga merupakan tempat dimana Dewa dan Dewi berada. Melalui seri karya Eruption sekaligus juga menghubungkan dengan kondisi bangsa yang saat itu memang sedang panas, di samping semangat menyama braya atau gotong royong saling menolong terhadap saudara yang tertimpa musibah.

Eruption
Setidaknya 4 karya seri Eruption ini kehadirannya memiliki korelasi pada karyanya yang berkisah tentang terbakarnya Gereja Katedral Paris pada April 2019 lalu. Korelasi ini menjadi tambah menarik manakala Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI untuk Perancis Prof. Warsito saat embuka pameran ini mengatakan bahwa salah satu contoh dialog budaya Un esprit, deux cultures terlihat pada karya yang berbicara tentang Gunung Agung yang meletus dan Gereja Katedral Paris yang terbakar.

Prof. Warsito menyebut untuk memahami budaya Indonesia secara khusus atau mengenal Indonesia secara umum, idealnya berkunjung ke Indonesia. Namun, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Perancis melalui seni budaya dan lukisan, dan Rosita sebagai seniman Indonesia dari Bali telah melakukannya, yaitu melalui sebentuk pameran lukisan.

Pameran tunggal Rosita yang berlangsung selama tiga bulan yakni 9 September-9 Desember 2019 ini didukung KBRI untuk Perancis. Saat pemukaan pameran dipergelarkan tari puspanjali dari KBRI Perancis serta tari pendet dan saman dari PPI Perancis di Strasbourg.

Karya Rosita dan proses kreatif yang menyertainya menjadi narasi yang menggugah kesadaran akan realitas dialog dua bangsa melalui spirit budaya. Rosita telah memperlihatkan  bagaimana seorang perupa memberi respon spirit budaya Indonesia dan Perancis yang harmoni itu melalui karya lukis. (Yudha Bantono, Strasbourg Perancis, September 2019)
Notre Dame de Paris, 2019, 100 x 50 cm, oil on canvas