Sanur International Kite Festival 2019: Menjadikan Langit Sanur Penuh Warna

Kamis, 15 Agustus 2019 : 21.30

Ketua Umum Sanur Village Festival IB Gede Sidharta Putra (kiri), Koordinator Sanur International Kite Festival Kadek Armika (tengah) dan sesepuh pelayang Indonesia Priyono, Kamis (15/8/2019). (Foto: @gusdsidharta)
DENPASAR (inibali.com): Perhelatan Sanur International Kite Festival 2019  yang merupakan salah satu program Sanur Village Festival menjadikan langit di atas Pantai Mertasari Sanur penuh dengan warna-warni layang-layang.

Musim layang-layang di Bali yang selalu dinantikan tidak disia-siakan para pelayang yang datang dari berbagai negara untuk mengikuti gelaran Sanur Internastional Kite Festival 15-18 Agustus 2019.

Ketua Panitia Sanur International Kite Festival 2019 Kadek Armika mengatakan dalam ajang ini para pelayang memadukan seni, aerodinamika, budaya, termasuk filosofi, sejarah dan imajinasi yang inovatif.

“Para pelayang juga berupaya menerjemahkan tema SVF 2019 Dharmaning Gesing atau memuliakan bambu yang memang sangat lekat dengan elemen layang-layang tradisional. Tanpa bambu membicarakan layang-layang tradisional Bali seakan tidak ada artinya,” katanya, Kamis (15/8/2019).

Menurut Armika spirit inilah yang ditekankan, misalnya kegiatan workshop layang-layang setiap peserta harus memahami karakter bambu sebelum merangkai layangannya. Seperti diperlihatkan pelayang asal Tulungagung, Jawa Timur Priyono yang selalu menggunakan elemen bambu untuk layang-layangnya. Priyono pernah memperoleh Pin Emas dalam Sanur International Kite Festival 2017 sebagai sesepuh pelayang Indonesia.

Ada pula dialog penting antara karakter, struktur, perhitungan keseimbangan, aerodinamis, estetis maupun filosofi karya yang akan diangkat. Bambu dalam layang-layang merupakan struktur rangka tulang utama, sedangkan kain atau bahan lain sebagaimana kulit seperti pada tubuh manusia. Bahkan layang-layang juga memiliki jiwa yang disebut Taksu Rare Angon.

Sanur International Kite Festival 2019 diikuti  peserta internasional dari 24 negara, di samping 1224 peserta dari Bali. Peserta internasional datang dari Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Taiwan, Macau, China, Jepang, Srilanka, Australia, Nepal, Italia, Hungaria, Belgia, Portugal, Pakistan, Inggris, Jerman, Perancis, Kolumbia, Swedia, Amerika Serikat, dan India.

Pada perhelatan Sanur International Kite Festival 2019 ini digelar pula workshop, terbang layang-layang kolaborasi pelayang internasional dan Indonesia, kompetisi layang-layang tardisional Bali, kompetisi kreatif layang-layang kelas nasional dan internasional, terbang malam (night kite flying) serta dialog peserta nasional maupun internasional.

Tampilan layang-layang di Sanur International Kite Festival  selalu mengalami perubahan. Kerja kreatif para kreator baik lokal, nasional maupun internasional selalu memberikan ciri khas sesuai tema-tema yang disodorkan panitia.

Layang-layang tradisional baik khas Sanur maupun pada umumnya seperti bebean, pucukan, dan janggan tetap dipamerkan serta dikompetisikan, termasuk layangan kreasi baru berupa karya inovatif dan kontemporer. Selain itu, dikompetisikan pula tabuh gambelan, pindekan, dan sunari.

Ketua Umum Sanur Village Festival Ida Bagus Gde Sidharta Putra atau akrab disapa Gusde mengatakan agenda Sanur International Kite Festival telah menjadi atraksi dunia, tentu koneksitas ini semakin memperkuat branding Sanur Village Festival.

“Layang-layang di samping sebagai ikon tradisional Bali memiliki peluang besar untuk dikembangkan pada industri kreartif yang lebih luas. Peluang ini sangat terbuka lebar, lebih-lebih sinergi dengan industri pariwisata,” katanya.

Kata dia peserta juga telah merespons tema Dharmaning Gesing secara baik dan diharapkan spirit memuliakan bambu dapat melahirkan insan-insan pelayang kreatif yang mampu mengolah bambu sebagai bahan elemen utama layang-layang menjadi karya seni yang semakin dahsyat.(wan)