Akulturasi Budaya Bali-China dalam Pameran Tunggal Tjandra Kirana

Rabu, 26 Juni 2019 : 10.25



DENPASAR (inibali.com)—Perupa Djaja Tjandra Kirana memamerkan 19 karya seni rupa yang mengusung konten akulturasi budaya lintas bangsa dalam pemeran tunggal bertajuk “Culture in Colours” di Santrian Gallery Sanur, 28 Juni hingga 9 Agustus 2019.

Djaja Tjandra Kirana lahir di Denpasar 29 Juni 1944. Awalnya belajar melukis sendiri sejak masih di sekolah dasar. Pada 1963 memulai karir sebagai fotografer sambil tetap menikmati kegiatan melukis. Sejak 1985 menunjukkan eksistensinya di bidang seni lukis dan menjadi anggota sejumlah komunitas perupa.

Pamerannya kali ini merupakan kelanjutan dari pertanyaan yang sering muncul di benaknya: kenapa di usia semakin tua semangat untuk menciptakan karya seni justru semakin menggelora.

“Tak ada yang bisa saya yakini atas sejumlah jawaban yang menghampiri. Di tengah suasana seperti itu, ketulusan sikap dan keiklasan mengikuti jejak pikiran untuk berkarya adalah jawaban sementara yang boleh saya yakini,” katanya, Rabu (26/6/2019).

Menurut Tjandra wacana kesenian akan bermuara pada karya visual. Melalui karya seseorang bisa digugat, disanjung, dan dipuji sebagai sebuah pencapaian. Meski demikian, ia tak terlalu hirau dengan sesuatu yang terjadi setelah karya terselesaikan. Biasanya itu hanya menjadi refleksi visual untuk menggugah proses penyempurnaan karya berikutnya.

“Bagi saya lebih penting mengemban ketulusan hati dan meneguhkan sikap dan semangat untuk terus berkarya,” tuturnya.


Keyakinan ini membuat Tjandra jenak berada di ruang kesenian, dengan kesederhanaan mengeksplorasi daya pikir untuk selalu mengikuti jejak perkembangan seni rupa yang pesat mengglobal. Pameran demi pameran di dalam maupun di luar negeri, selagi ada kesempatan tak pernah ia lewatkan.

Pertemuan dengan berbagai pihak di ruang pamer membuatnya serasa tak pernah lepas dari kerumunan mereka yang sama-sama bergiat di medan kesenian, bahkan semakin hari deret pertemanan saya semakin bertambah, memang menggembirakan.

Selebihnya, apresiasi yang ia dapatkan berupa penghargaan nasional dan internasional, adalah sisi lain yang tak membuat takabur kemudian terhenti berproses seolah telah meraih segalanya, melainkan apresiasi semacam itu akan menjadi dokumen kesenian kebanggaan keluarga.

Ia sangat mensyukuri perjalanan kehidupan memasuki usia 74 tahun pada 29 Juni 2019 dan menyiapkan karya untuk pameran ini. Dalam pameran tunggal yang ke-8 ini, Tjandra masih setia pada keagungan budaya Tanah Air yang dikembangkan menjadi kebudayaan lintas bangsa. “Culture in Colours” akan menjadi peringatan sederhana tentang kemuliaan usia manusia untuk memaknai doa dan kesetiaan bagi siapa saja yang hadir dalam pameran ini.

Tjandra boleh bangga bahwa lahir, tumbuh dan tua di Bali, di mana tempat yang sarat dengan budaya dan ragam tradisi yang unik telah menempa jiwa dan karakter saya dalam membangun etika dan estetika.

Memaknai banyak peristiwa budaya lintas generasi, banyak kisah-kisah Bali di masa lampau yang ia simpan di kanvas sebagai karya seni. Hal serupa juga ia dokumentasikan dalam fotografi, subkesenian yang lain yang ia geluti sampai sekarang. Membaca Bali, ternyata tak bisa dilepaskan dengan akulturasi yang terjadi akibat gesekan dan kedatangan imigran bangsa lain yang juga menambah khazanah kebudayaan di Bali.

Tjandra menjelaskan bahwa akulturasi dan perkembangan silang budaya, khususnya kebudayaan bangsa lain, seperti China, India, Arab dan lainnya secara khusus ia cermati. Hal itu melekat dalam sejumlah karya yang dipamerkan saat ini.

“Semoga pameran ini mampu memberikan narasi visual yang mencerahkan dalam melengkapi wawasan kebudayaan yang tak terpisahkan dalam berkesenian,” katanya.

Budayawan Dr. Jean Couteau melalui esai dalam katalog pameran mengungkapkan kejelian Tjandra menangkap bauran budaya dari tanah leluhurnya, China, dan Bali, tempat ia lahir dan dibesarkan. Misalnya, dalam lukisan yang menggambarkan perjumpaan barong Bali dengan barongsai Cina dengan mural latar belakang yang menampilkan penari wanita Bali dengan gaya Kamasan.

Jean menambahkan Tjandra tak hanya mencermati aktivitas dan interaksi manusia, tetapi juga benda-benda mati seperti vas bunga, keramik, kain, dan lain-lain seperti dalam karya dengan tema alam benda (still life) dalam pameran ini. Ada pula peralatan upacara, arsitektur, serta berbagai ikonografi yang  menggambarkan silaturahmi budaya pada masa lampau yang kini cair dalam keseharian.

Sahabatnya, yang juga seorang pecinta seni, Tossin Himawan mengatakan, Tjandra adalah seorang seniman multitalenta. Selain tekun melukis, Tjandra juga piawai dalam bidang fotografi yang menyabet sejumlah gelar termasuk menjadi juri ajang bergengsi seperti Salon Foto Indonesia. Pengakuan dunia internasional ia miliki di antaranya, ARPS di Inggris (1984), Thailand serta PSA dari Amerika Serikat, sedangkan dari tingkat nasional seperti PAF Bandung dan institusi lainnya.

Partisipasi aktifnya sampai hari ini di ajang lokal maupun internasional  menghasilkan setumpuk penghargaan, hal ini tentu memaksa kita untuk mengetahui dan mendalami bagaimana perjalanan keseniannya yang fokus terhadap kegiatan seni budaya. Seni rupa dan fotografi berkelindan dalam keseharian Tjandra memunculkan sinergi yang inspiratif menjadi gaya unik, artistik, dan inovatif. Tema-tema kreatif dapat dinikmati melalui kecanggihan teknis dalam mencapai karya fotografi yang ungul serta harmoni yang indah pada lukisan.

Pemilik Santrian Gallery Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan bak peribahasa, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijujung”, Tjandra mengejawantahkannya melalui perilaku dan karya, baik fotografi maupun seni lukis. Aktivitas seni, adat, tradisi, dan keseharian masyarakat Bali sangat kental dalam karyanya yang hampir tak luput dari persinggungan akulturasi budya.

Gusde, sapaan akrab Sidharta Putra, menambahkan sangat bangga memamerkan karya Tjandra seraya berharap semangat berkesenian hingga di usia senja itu tertular kepada para seniman yang lebih muda. “Kami juga memohon dukungan para pecinta seni agar galeri ini tetap konsisten memamerkan karya seni rupa untuk mewadahi kreativitas para seniman,” ujarnya.