Kazunobu Yanagi Menyelami Elemen Alam & Akar Budaya Asia

Senin, 06 Agustus 2018 : 21.37

Kazunobu Yanagi
BILA sedang berkunjung ke Ubud Bali, singgahlah ke Bidadari Manadala Art Gallery, tepatnya di Desa Mas. Bidadari Mandala sedang memamerkan karya-karya seni rupa kolaborasi antara Jepang dan Indonesia. Tiga seniman Jepang Kazunobu Yanagi, Yasu Suzuka, dan Minako Hiromi berkolaborasi dengan seniman wanita Indonesia Trie Utami.

Semangat akar budaya asia, penghargaan terhadap alam, kontemplatif, spiritual, dan penuh kedamaian, demikian kesan kesadaran artistik yang diusung seniman yang berpameran, syarat dengan pesan filosofi bagi kebaikan di muka bumi. Kepiawaian tiga seniman Jepang yang membawa persepsi kebudayaannya terlihat menyatu sebagai rangkaian jalinan dialog dalam mencipta karya yang universal.

Pameran seni rupa yang akan berlangsung 4-25 Agustus 2018, memberikan kesan yang mencoba memahami masalah kesamaan pandangan terhadap budaya Jepang dan Indonesia. Pameran ini sekaligus sebagai penanda 60 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang.

Judul pameran “Teratai Salju”, dari namanya dapat dipahami sebagai simbol kuat akan hadirnya upaya penyucian alam jagad raya demi kebaikan dan kedamaian. Teratai Salju sendiri tumbuh di pegunungan Jepang yang bersalju dan mekar di air suci, serta dipercaya sebagai air suci surgawi.

Pada pembukaan pameran (4/8) Kazunobu Yanagi membuat performing art yang di respons Trie Utami. Kazunobu mengungkap sisi kehadiran dirinya yang merupakan bagian dari alam dengan simbolisme elemen-elemen seperti air, tanah, api, udara dan ruang angkasa, dihadirkan dalam rupa gerak, suara, dan warna.

Kazunobu menuangkan kelima unsur elemen itu kedalam kanvas yang dibentangkan di atas tanah. Proses penciptaan karya yang diawali dengan membubuhkan lem, menabur arang bambu halus, melukis dengan kuas bambu dengan beragam warna. Ruang yang direspons oleh Kazunobu sebagai kesadaran terlihat kuat sebagai simbol perlakuan bahwa dirinya bagian dari alam itu sendiri.

Apa yang diadaptasi diatas kanvas yang pada akhirnya sebagai karya, ternyata tidak langsung hadir sebagai respons saat itu. Kazunobu bulan Desember tahun lalu telah datang ke Bali, ia melakukan riset lebih awal. Memahami konsep kebudayaan dan alam, termasuk Gunung Agung sebagai pusat kekuatan energi spiritualitas. Ia memadukan apa yang diamati dengan kedekatan pembacaan panjang yang menggiring dirinya menciptakan karya melalui proses kreatif.

Kazunobu menuturkan  bukan sebuah kebetulan bila menaruh hormat pada konsep dan filosofi Hindu Bali tentang proses penciptaan alam jagad raya dan manusia yang dikenal dengan Panca Mahabhuta.  Dan ini sangat universal, karena kepercayaan di Jepang juga sama. Selanjutnya, Kazunobu memberikan judul karyanya “Ki” yang artinya energi. Melalui energi menurutnya akan membawa ingatan pada proses penciptaan serta perjalanan kehidupan sampai mencapai keharmonisan atau keseimbangan hidup.


Kazunobu dalam menyiapkan materi untuk berkarya sebagaian ia bawa dari Jepang dimana ia tinggal. Air suci, batu, bambu, serta arang bambu halus. Instalasi seni yang dibentuk melingkar merepresentasikan bumi, dan ditengahnya bidang segitiga adalah gunung, serta kolam yang berisi air suci. Terlihat jelas ia membahasakan mula “Teratai Salju” yang menghantarkan proses energi pada ingatan penciptaan dan menjaga keharmonisan alam.

Kazunobu seniman kelahiran Fukuoka 1947, memulai karir melukis sejak umur 23 tahun, ia banyak menghabiskan waktunya di San Francisco  Amerika Serikat. Sepulang dari San Francisco yang ia tinggali selama 30 tahun, tepatnya tahun 2000 ia menetap kembali di Jepang, berkarya dan ingin terus bereksplorasi terhadap persoalan yang menyangkut akar budaya asia.

Art project di Bidadari Mandala yang menghadirkan “Ki” atau “Chi” sejatinya ia mengajak melihat persoalan tentang ketidakharmonisan alam ini akibat ulah manusia sebagai penghuninya. Meskipun secara simbolis dalam karya akhir menghasilkan lukisan abstrak, namun sebagai proses dapat dimaknai sebagai pemaknaan personal, apa yang dilakukan Kazunobu bisa dikembangkan lebih lanjut dalam dialog gagasan dengan seniman Bali di kemudian hari.

Kazunobu berharap bila peradaban sejarah budaya dengan berbagai penandanya dapat menjadi project bersama dan terus didialogkan, tidak menutup kemungkinan akan menjadi kekuatan identitas seni di Asia. Kolaborasi tidak hanya sebatas antar seniman, tapi pemikiran dan gagasan sekiranya bisa menjadi acuan riset bersama. Hal ini sangat penting dalam menemukan titik temu yang perlu disampaikan untuk kepentingan bersama bagi kebutuhan saat ini maupun akan datang.

Saya bisa membayangkan bagaimana Kazunobu menemukan persoalan dari batu-batu yang ada di halaman rumahnya, ia bawa ke Bali untuk menjadi penanda sekaligus simbol berbicara. Saya tidak menduga dari hal sederhana dari batu itu, ia kembangkan ke elemen lainnya sehingga batu vulkanik yang ia bawa mewakili unsur tanah, air, arang halus bambu yang mewakili unsur api membuka pintu dialog yang harmoni antara budaya Jepang dan Indonesia.

Saya juga percaya dan memahami, tidaklah mudah mengelola dialog yang dapat dikolaborasikan tanpa mengetahui terlebih dahulu dasarnya sebagai awal pembicaraan yang akan disampaikan. Namun yang cukup penting saya catat pada karya Kazunobu Yanagi, bahwa ia berhasil menerjemahkan pemikiran dua filosofi kehidupan antara budaya Jepang dan Indonesia, khususnya Bali.

Kazunobu menyampaikan karya seninya bukan sekadar perkara keindahan, melainkan bagaimana karya itu dapat memberikan kesadaran bagi penikmatnya. Dan malam itu saya menganggap karya performing art Kazunobu benar-benar hadir sebagai manifestasi dari keyakinan spritualitasnya, bahwa “Ki” sebagai energi kebaikan ia hadirkan di bumi Bali. (Yudha Bantono)