Edukasi Siaga Bencana & Tsunami di Boost Sanur Vilage Festival 2018

Minggu, 26 Agustus 2018 : 12.02

DENPASAR (inibali.com)--Edukasi siaga bencana menjadi perhatian Boost Sanur Village Festival 2018, di tengah terjadinya sejumlah gempa yang mengguncang Pulau Lombok dan terasa hingga di Bali belum lama ini.

Koordinator acara Wayan Parka mengatakan program edukasi dirancang dengan aneka permainan, lomba mewarnai dan menggambar yang melibatkan siswa TK dan SD serta orangtua dan guru.

Edukasi ini sangat penting bagi anak-anak mengingat kita hidup di Indonesia yang selalu berurusan dengan gempa bumi karena sebagian besar wilayah Indonesia berupa gunung berapi (kawasan ring of fire).

“Program edukasi yang dirancang secara riang meliputi pengetahuan mengenai gempa bumi dan tsunami. Kedua menyampaikan kemungkinan hal-hal yang terjadi, dan ketiga mengatasi diri dari bencana,” kata Parka yang juga ikut mengajar dalam edukasi tersebut, Minggu (26/8/2018).

Sekitar 200 siswa TK dan SD se-Sanur mengikuti program edukasi ini selama 2 hari (Jumat-Sabtu, 24-25/8/2018) bertempat di Segara Seaside Bar and Grilled Sanur.

Para peserta, orangtua dan guru, ttampak sangat menikmati program ini. Tak sedikit dari peserta menunjukkan raut muka terkejut mendengar bahaya bencana. Tetapi, setelah dijelaskan oleh pengajar sekaligus melihat video dan alat peraga mereka akhirnya paham.

Menurut Parka yang juga relawan pengajar bencana alam di berbagai sekolah, anak-anak sangat antusias mengikuti program ini. Karena mereka masih tergolong usia anak-anak maka metode pengajaran dengan kegembiraan sangat mendukung untuk memasukkan ingatan yang telah diberikan.

Ketua Boost Sanur Village Festival 2018 Ida Bagus Gede Sidharta Putra atau akrab disapa Gusde mengatakan program edukasi lingkungan hidup dan mitigasi bencana alam yang telah dilaksanakan di setiap pelaksanaan SVF memberikan arti yang sangat penting bagi upaya penanaman pemahaman menyelamat lingkungan dan mengatasi kejadian bencana alam.

“Anak-anak itu bagai tanaman yang baru tumbuh, bila terus disirami dan dipupuk dengan pengetahuan dan pemahaman untuk mencintai alam, serta tanggap terhadap bahaya bencana alam, maka akan tumbuh subur untuk selalu berbuat yang terbaik bagi alam, serta tidak panik dan mampu menyelamatkan diri bila bencana gempa bumi dan tsunami terjadi,” tuturnya.(yud)