Federasi Serikat Kerja Bali Berharap Tidak Ada PHK Karyawan

Minggu, 17 Desember 2017 : 18.08

Gunung Agung, lanskap nan indah dilihat dari Ababi, Karangasem. (Foto: Wayan Redika).
DENPASAR (inibali.com)--Federasi Serikat Kerja Bali berharap tidak ada pemutusan hubungan kerja atau PHK karyawan karena penurunan kunjungan wisatawan akibat erupsi Gunung Agung.

Ketua Federasi Serikat Kerja Bali Wayan Suyasa mengatakan agar pekerja tidak dijadikan korban mengingat pengabdian mereka kepada perusahaan telah mencapai puluhan tahun.

Ia menyadari perusahaan banyak merugi akibat bencana kali ini, karena menurutnya tidak dipungkiri pemberitaan di luar negeri sudah cukup besar.

"Akan tetapi, coba kita pikir jernih, selama ini perusahaan juga sudah mendapatkan banyak keuntungan. Jadi jangan hanya kejadian sekali ini langsung mengeluh dan lantas mengorbankan pekerja yang sudah loyal selama ini," ujar Suyasa yang juga Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Badung saat orasi pada Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), Minggu (17/12/2017).

Dampak erupsi Gunung Agung sejak akhir November memang sudah dirasakan berbagai sektor. Sektor yang paling rentan adalah pariwisata, karena telah terjadi penurunan jumlah wisatawan ke Bali yang diikuti dengan tingkat okupansi yang turun juga, bahkan ada beberapa perusahaan yang mulai merumahkan para pekerjanya.

Untuk mengatasi masalah ini, lanjut dia, semua pihak harus duduk bersama, mulai dari serikat pekerja, para pengusaha hingga pemerintah.

"Kita harus carikan win win solution, karena pendapatan 80 persen warga Bali ada di sektor pariwisata, jangan sampai banyak orang dikorbankan karena masalah ini," ucapnya.

Melalui duduk bersama, selain mencegah PHK massal, juga diharapkan para pengusaha tetap menggaji sesuai dengan UMP yang telah ditetapkan.

"Jangan sampai ada penurunan bahkan penundaan gaji karena tidak sesuai dengan ketentuan," katanya.

Selain itu, ia juga mengapresiasi langkah Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang telah mengundang para Konsul Jenderal di Bali dan menjelaskan kondisi Bali yang sebenarnya dengan harapan mereka akan meneruskan ke negara asal.

Akan tetapi, peran masyarakat terutama pengguna media sosial juga diharapkan, dengan menyebarluaskan berita positif tentang keadaan Bali dan stop menyebarkan "hoax" atau berita bohong tentang kondisi Gunung Agung. (Antara/wan)