Tiga dari Empat Danau di Bali Tercemar

Minggu, 18 Desember 2016 : 06.11


DENPASAR (inibali.com) - Pulau Bali memiliki 4 danau besar. Keempatnya adalah Danau Tamblingan, Danau Beratan, Danau Buyan dan Danau Batur. Tiga danaunya berada di Kabupaten Tabanan dan perbatasan Kabupaten Buleleng yakni Buyan, Tamblingan dan Beratan dan satu danau berada di Kabupaten Bangli. 

Oleh masyarakat Bali, keempat danau tersebut merupakan kawasan suci yang semestinya harus dijaga kesuciannya. Selain sebagai kawasan suci,  keempat danau tersebut secara struktur geolologis telah mengairi bumi Bali. Danau Beratan, Buyan dan Tamblingan menjadi sumber air bagi Buleleng, Jembrana, Tabanan, Badung dan Denpasar. Sementara Danau Batur menjadi sumber air bagi Gianyar, Bangli, Klungkung, Karangasem.


Dosen Pertanian dan Klimatologi Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Udayana DR Ni Luh Kartini mengatakan, dari 4 danau yang ada di Bali itu tiga diantaranya sudah rusak dan tercemar. "Tiga danau yang tercemar adalah Danau Buyan, Danau Beratan dan Danau Batur. Hanya satu Danau yang masih normal yakni Danau Tamblingan karena 4 desa yang ada di kawasan penyanding Danau Tamblingan kompak secara adat dan tradisi tetap komitmen menjaga kelestarian lingkungan danaunya karena mereka masih memiliki keyakinan danau sebagai kawasan suci. Sementara 3 danau lainnya sudah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan," ujarnya di Denpasar, Sabtu (17/12).



Dari 3 danau yang kondisinya memprihatinkan, kondisi yang paling berat adalah Danau Batur dan dan Danau Buyan. Danau Batur mengalami pencemaran yang hebat. Hal ini disebabkan ada 11 desa penyanding yang mengeliingi Danau Batur tidak secara kompak menjaga kelestarian lingkungannya. Ada dua penyebab utama pencemaran di Batur. Pertama, sistem pertanian yang menggunakan pestisida, lalu secara topografi, seluruh sisa limbah pestisida itu terkumpul dan mengalir ke danau. Kedua, ada banyak vila, hotel, usaha pemandian, bahkan limbah rumah tangga di lereng Gunung Batur, semuanya dibiarkan mengalir ke Danau Batur. "Banyak hotel, vila, kolam pemandian, tidak memiliki sistem pengolahan limbah yang baik. Begitu pula limbah rumah tangga. Semuanya mengalir ke danau," ujarnya. Akibatnya Danau Batur sebagai danau terbesar di Bali tercemar. Bahkan ikan yang ada di Danau Batur juga tercemar dan berbahaya jika dikonsumsi atau tidak layak dikonsumsi.



Sementara berikutnya adalah Danau Buyan. Pencemaran Danau Buyan itu lebih pada sedimentasi selain karena limbah kimia yang ada. Sedimentasi itu muncul karena terjadi erosi yang membawa lumpur ke danau. Sedimentasi ini menyebabkan pendangkalan dasar danau. Gulma yang sebelumnya menjadi habitat ikan danau berubah menjadi rumput. Daerah resapan air di sekeliling danau sudah tidak berfungsi. "Sistem pertanian mengubah fungsi lahan. Lahan yang sebelumnya adalah kopi berubah menjadi tanaman stroberi dan bunga. Para petani tidak membangun pertaniannya dengan terasering. Saat hujan, seluruh lumpur turun ke danau. Maka terjadilah luapan air yang merendam pemukiman dan lahan penduduk sekitar," ujarnya.



Menurut dosen yang dijuluki ahli tanah ini, kondisi pencemaran danau di Bali itu sangat kontrapoduktif dengan adat dan budaya Bali. "Ironis!! Bali yang dijuluki agama Tirta, agama Air, karena air menjadi salah satu sarana utama, tetapi sumber airnya tercemar. Tiga danau yang menjadi sumber air, yang menjadi hulunya Pulau Dewata, kondisinya sudah sangat memprihatinkan," ujarnya. Ia menganalogikan kondisi Pulau Bali seperti seekor naga. Kepala naga ada di pegunungan, kakinya adalah sunga-sungai yang membelah Pulau Bali, badannya adalah hutan, sementara 4 danau itu ibarat mahkota karena berada di kepala naga. "Bayangkan kalau mahkotanya rusak, bagaimana naga itu, sudah tidak ada artinya lagi," ujarnya. (ar)