Siapkan Akses Modal Wirausaha Muda Era Digital

Kamis, 29 Desember 2016 : 09.55


DENPASAR (inibali.com) - Pengamat UMKM Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Udayana Sayu Ketut Sutrisna Dewi mengemukakan, mahasiswa di Indonesia dan Bali bisa mengakses modal ke pemerintah untuk berwira usaha di bidang teknologi dunia maya. 


"Pemerintah melalui Kemenristek dan Dikti menyiapkan akses modal yang besar. Tentu saja harus memenuhi seluruh persyaratan sebagaimana modal kerja seperti di UKM termasuk bunga 9 persen pertahun. Bagi mahasiswa yang berminat, pemerintah menyiapkan akses modal hingga Rp 350 juta perunit usaha," ujarnya dalam diskusi bertajuk “Tantangan dan Kendala Wirausaha Muda di Era Digital” yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar bekerjasama dengan Bank Mandiri, Rabu (28/12).

Ia menyebutkan, masih banyak calon pengusaha khususnya mahasiswa belum mendapatkan dukungan dari keluarga dan komunitas karena masalah cara pandang atau paradigma yang mengatakan kuliah untuk bekerja. Menurutnya, saat ini harus diubah menjadi sekolah untuk membuka usaha agar semakin banyak jumlah pengusaha di Indonesia, khususnya Bali yang memiliki jumlah penduduk usia muda cukup besar. 



“Kita lagi masa transisi, beberapa pihak bisa menerima, beberapa tidak.  Anak-anak sudah berusaha tapi kadang belum disupport. Pengalaman kami ketika membina anak muda seperti itu, dia susah payah meyakinkan orang tua untuk menjalankan bisnisnya, dia sampai minggat dari rumah untuk membuktikan ke orang tuanya dia benar,” ujarnya. Menurut Sutrisna Dewi, pola pikir seperti itulah yang menghambat kenaikan jumlah pengusaha muda secara signifikan, karena anak dipaksa mengikuti keinginan orang tua dan bukan berdasarkan passion, misalnya dalam hal kuliah.

Data hasil polling di Universitas Udayana pada 2010 silam, didapatkan hasil sebanyak 56% dari total responden menyatakan salah jurusan. Dari jumlah yang salah jurusan tersebut, 90% menyatakan salah jurusan karena mengikuti keinginan orang tua. Menariknya, kata dia, 76% responden yang disurvei ternyata memilih menyembunyikan usahanya dari orang tua. 



Dia juga mengungkapkan salah kaprah memandang wirausaha juga berdampak terhadap upaya menciptakan komunitas usaha seperti incubator bisnis untuk mahasiswa Karena itu, lanjutnya, gerakan kewirausahaan membutuhkan partisipasi dari banyak pihak, terutama keluarga dan komunitas untuk memberikan dukungan bagi calon wirausaha sehingga semakin banyak generasi muda memilih menjadi pengusaha dibandingkan sebagai karyawan. “Wirausaha bukan sesuatu yang dikenalkan sebagai cita-cita oleh orang tua, yang dikenalkan itu dokter, akuntan dan pekerjaan lain. Jadi wirausaha itu nanti kalau tidak dapat kerja di mana-mana,” tuturnya.

Sementara Owner PT Bamboomedia Putu Sudiarta menyarankan wirausaha dimulai sejak usia sebelum 35 tahun, karena masa-masa tersebut memiliki ruang gerak lebih luas dibandingkan ketika usianya sudah lewat 35 tahun. Menurutnya, pada usia tersebut manusia memiliki kemampuan lebih tajam.



Diakuinya menjadi pengusaha tidak mudah, karena membutuhkan dedikasi kuat untuk bisa berhasil. Sudiarta mengingatkan bahwa potensi industri digital untuk menjadi ladang usaha sangat besar. Bahkan, Bali terbukti menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan informasi teknologi seperti OLX.



Di era teknologi digital seperti sekarang, generasi mudah disarankan mencari problem yang dialami di Indonesia setidaknya 1 juta orang mengalami untuk kemudian dicarikan solusi berbasis aplikasi. Dia menegaskan industri digital dapat mendorong banyak solusi menjadikan Indonesia lebih efisien dan efektif.



“Di dunia digital pelakunya adalah anak muda yang punya niat luar biasa, masih punya determinasi kuat pada hidupnya dan melihat potensi besar di zaman digital ini. Kita butuh partisipasi anak muda untuk menyelesaikan problem itu, sehingga indonesia tak kehilangan momen bonus demografi dengan skil kuat,” tuturnya.

Ditambahkan Deputi Direktur Manajemen Strategis, EPK dan Kemitraan Pemda OJK Regional 8 Bali Nusra Yones bahwa saat ini masyarakat tidak bisa menghindari dunia digital sehingga jika tidak mengikuti digital akan hanyut atau habis. Karena itu, generasi mudah disarankan untuk mengikuti dan memanfaatkan teknologi digital secara positif. (Ar)