Direktur RS HDR Soroti Rawat Inap Berstandar Kelas Di Indonesia

Selasa, 07 Juni 2016 : 22.57

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menjelaskan mengenai proyek RS Bali Mandara kepada Direktur Proyek RS RDH Prof. Di Brown, Selasa (7/6/2016)

Gubernur Bali secara khusus mengajak Direktur Proyek dari Royal Darwin Hospital (RDH) Australia, Prof. Di Brown untuk melihat langsung ke lokasi rumah sakit milik Pemprov yang terletak di Jl. By Pass Ngurah Rai, Sanur, Denpasar pada Selasa (7/6). Dalam kunjungan tersebut, Pastika berharap Di Brown tidak saja memberikan saran namun juga kritikan demi meningkatkan standar kualitas RS Bali Mandara sebagai rumah sakit bertaraf internasional.

Menurutnya hingga saat ini RDH masih menjadi benchmark pembangunan Rumah Sakit Bali Mandara, mengingat dalam kunjungan kerja terakhirnya ke Australia baru baru ini, Pastika melihat langsung kualitas pelayanan terutama dalam penanganan kegawatdaruratan yang sangat prima. “Royal Darwin Hospital menjadi partner kita terutama dalam pengendalian mutu, makanya kita tanya masalah standar dokter, standar pelayanan dan perawatan serta standar fasilitas dan perlengkapan semua itu harus yang paling bagus di Balli,” bebernya.

Lebih lanjut orang nomor satu di Bali ini ingin juga meniru integrasi dari lintas institusi dalam menangani suatu krisis di negeri Kangguru itu. Pastika menjelaskan Di Darwin setiap ada masalah kegawatdaruratan berbagai elemen seperti pemadam kebakaran, polisi dan rumah secara bersama terjun menangani. “Sebagai contoh, kepala rumah sakit di sana bertanggung jawab terhadap kecelakaan lalu lintas dan kebakaran, integrasi mereka sangat bagus sehingga pelayanannya cepat dan saya ingin hal itu juga diterapkan di sini,” imbuhnya. 

Dalam kesempatan itu, Pastika juga membeberkan rumah sakit andalan Pemprov Bali ini telah melalui perencanaan yang sangat matang dengan anggaran sekitar 300 milyar lebih meliputi 100 milyar perlengkapan dasar rumah sakit, interior 8 milyar dan fisik 200 milyar. Ke depan dia berharap rumah sakit ini akan saling melengkapi dengan RSUP Sanglah, dan tentu saja JKBM dan BPJS bisa digunakan di sini meskipun nantinya memakai embel-embel rumah sakit internasional.

Sementara Di Brown mengungkapkan Bali dan Darwin sudah lama bekerjasama terutama dalam kegawatdaruratan melalui National Critical Care and Trauma Response Centre (NCCTRC). Dia juga menyerukan harapan yang senada dengan Pastika akan kualitas rumah sakit yang berstandar internasional, dan dia yakin rumah sakit ini bisa sebagus RDH mengingat Bali mempunyai SDM yang berkualitas. 

Adapun yang menjadi konsen masukan dia terhadap rumah sakit ini adalah pembangunan Instalasi Rawat Darurat (IRD). Karena menurutnya rumah sakit yang berkualitas harus mengutamakan pelayanan di bidang kegawatdaruratan. Jadi dia menyarankan agar menempatkan dokter dan perawat senior di sana. Hal lain yang menjadi sorotannya adalah sistem rawat inap yang masih menggunakan standar kelas, sementara di Australia sendiri pasien dikelompokkan berdasarkan penyakit, jadi dokter spesialis beserta perawat lebih mudah mengontrol.

Menanggapi hal itu Pastika menyatakan jika sistem kelas dalam rawat inap sudah diatur dalam UU di Indonesia jadi tidak bisa dilanggar. Namun dia berharap sistem kelas dan sistem pengelompokan pasien berdasarkan penyakitnya bisa dikombinasikan. Namun dia juga setuju terkait penempatan dokter dan perawat senior di IRD dengan tujuan untuk mendapatkan keputusan yang tepat dan cepat. “Jadi dokter magang saya larang ditempatkan di IRD di rumah sakit ini,” tegasnya. Dia juga menegaskan bahwa rumah sakit ini milik rakyat Bali jadi tidak akan dibeda-bedakan meskipun ke depan bisa saja berfungsi sebagai medical tourism karena akan memiliki fasilitas lengkap dengan pelayanan prima.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, menyatakan bahwa pembangunan rumah sakit sudah mencapai sekitar 62% dan dia optimis pembangunan fisik akan selesai pada bulan september mendatang. Sementara untuk layanan unggulan di rumah sakit yang akan memiliki sekitar 200 kamar tidur ini akan fokus ke 3 hal yaitu penanganan penyakit kanker dengan membangun gedung khusus untuk penanganan penyakit itu, neuroscience yang meliputi perawatan syaraf dan stroke, serta geriatri yaitu pelayanan untuk para lansia. 

Tapi dia juga menyatakan rumah sakit ini tetap menangani penyakit lainnya karena merupakan rumah sakit umum. “Kita tonjolkan 3 hal itu untuk membedakan dengan rumah sakit lain, sama halnya Sanglah yang punya pusat perawatan jantung, selain di sini juga bisa memberikan perawatan pasca trauma,” jelasnya.

Kerjasama Pemprov Bali dengan RDH sendiri rencananya akan semakin diintensifkan dengan mengirimkan sejumlah dokter muda baik dokter dari kepolisian maupun dokter dari Rumah Sakit Sanglah untuk belajar di Royal Darwin Hospital dan di NCCTRC dalam kursus singkat selama 5 minggu. RDH sendiri saat ini tengah mensosialisasikan alat yang disebut “ Track Me Device “ yang sangat memegang peran penting dalam keadaan gawat darurat. “Track Me device” digunakan untuk mendeteksi keberadaan pasien / korban bencana pada saat situasi gawat darurat terjadi. Alat berupa gelang yang dilengkapi dengan kode batang akan dipasangkan pada pergelangan tangan para korban dan tim kesehatan dapat memantau lokasi keberadaan korban serta kondisi korban dari sistem yang dihubungkan ke gelang tersebut. 

Disamping peningkatan kerjasama dalam bidang kegawatdaruratan, Pemprov juga akan melakukan kerjasama dalam bidang pendidikan dengan pihak Australi dengan melakukan pertukaran pelajar antar siswa sekolah Bali Mandara dengan Essington School yang berada di Darwin dengan harapan para siswa akan dapat belajar dan menimba pengalaman tentang sistem pendidikan di Darwin. (hum)