Menjaga Sanur yang Luhur, Tolak Reklamasi Berkedok Apapun

Rabu, 16 Maret 2016 : 12.30

Opini oleh IB Gede Sidharta Putra*)

Rencana reklamasi Teluk Benoa telah menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Megaproyek ini cenderung berisiko terhadap disharmonisasi dan keberlangsungan lingkungan serta perikehidupan budaya Bali. Sebagaimana setiap pembangunan yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan masyarakat dan meminimalisir kerusakan lingkungan, ternyata pada tahap awal rencana ini menghadirkan konflik dan kekhawatiran dampak yang akan ditimbulkan baik secara sekala maupun niskala.

Membangun pariwisata di Bali pada hakikatnya adalah suatu proses yang harus mengaitkan banyak unsur seperti religi, budaya, alam dan lingkungan hidup. Pada tataran sosial budaya, krisis oleh pemaksaan kehendak dari investor yang begitu kuat menjadi konsumsi konflik yang dapat mempengaruhi sendi pariwisata itu sendiri. Di sisi lain pembangunan pariwisata tidak lagi bersifat fungsional menyiapkan sarana dan prasarana, tapi juga mengekspresikan posisi dan identitas. Maka tidaklah berlebihan bila pariwisata yang berkembang melampaui daya dukung alam dan budayanya adalah realitas semu seperti sebentuk tubuh tanpa aura.

Lantas mau dibawa ke mana wajah parisata Bali sebagai akibat hadirnya kontradiktif penyediaan ruang yang memaksakan ini? Pariwisata global yang dibangun di atas iklim persaingan yang tinggi antardestinasi mendorong strategi untuk menciptakan pariwisata yang memiliki keunikan dan kekhasan, memuati prestise, status dan kelas. Pariwisata bukan memproduksi produk artifisial, melainkan dikonstruksi secara sosial budaya dan daya dukung alam.

Dinamika pariwisata Bali terus berkembang, budaya dan lingkunganlah sebagai penopangnya. Penyelamatan lingkungan harus benar-benar menjadi aktualisasikan diri. Masa depan pariwisata Bali dengan dalih kebutuhan tingkat hunian dan sarananya tidak hanya tertuju pada eksploitasi alam, melainkan inovasi  yang tetap berakar pada kekuatan luhur dan penyelamatan alam.
Memang tanpa disadari, kemajuan pariwisata telah membawa pada perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat serta dampak pergeseran kualitas lingkungan hidup. Namun juga menghadirkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Adanya pulau-pulau ciptaan atas reklamasi Teluk Benoa kelak akan mengakibatkan proses sedimentasi atau pendangkalan. Ini karena material sedimen dari sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Benoa terhalang oleh pulau-pulau baru itu. Arus laut jelas bakal berubah dan mempengaruhi ekosistem yang selama ini telah terbangun alami di perairan teluk. Masih melekat dalam ingatan reklamasi Pulau Serangan telah mengempas pantai di sekitarnya dengan abrasi yang sedemikian rupa, termasuk Sanur telah menjadi korbannya.

Ini belum lagi kalkulasi soal tingkat okupansi kamar yang kian terpuruk. Data PHRI Bali cukup mengejutkan berdasarkan hasil survei 2015 pasokan kamar akomodasi wisata tembus 130.000 kamar, 98.000 di antaranya berada di Kabupaten Badung. Menurut perhitungan PHRI Bali, dengan jumlah kamar sebanyak itu dibutuhkan 92,5 juta wisatawan setiap tahun untuk mendapatkan okupansi 100%. Sementara Disparda Bali mencatat pada 2015 hanya sekitar 11,15 juta wisatawan domestik dan manca negara ke Bali. Dengan jumlah kamar sebanyak itu, untuk memenuhi okupansi minimal 50% saja –jika setiap kamar terisi 1 orang per hari-- selama setahun masih dibutuhkan sekitar 46,28 juta orang wisatawan. Akibat kelebihan pasok kamar, okupansi hotel di Bali mengalami tren penurunan berkisar 30%-40%.‎ Tak terbayangkan jika jumlah kamar kian bertambah seandaninya reklamasi Teluk Benoa terlaksana.

Menjaga Sanur yang Luhur
Yayasan Pembangunan Sanur (YPS), sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat yang menaungi 27 banjar di Desa Sanur Kaja, Kelurahan Sanur, Desa Sanur Kauh, Desa Adat Sanur, Desa Adat Intaran dan Desa Adat Penyaringan, sepakat menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dengan alasan revitalisasi maupun kedok apapun.

Penolaan ini selaras dengan semangat para penglingsir saat mendirikan yayasan pada 1966 di antaranya mengantisipasi perkembangan pariwisata dengan tetap memegang tegus potensi seni, budaya, adat, tradisi dan kelestaraian lingkungan hidup. Sanur sebagai destinasi pariwisata dengan keagungan seni budaya, sejak awal telah memiliki kesadaran lingkungan, lentur menghadapi gesekan budaya asing, dan arif menghadapi perubahan. Ketenangan dan kedamaian wilayah Sanur saat ini juga karena sendi-sendi yang telah dibangun para pendahulu tersebut.

Blunder yang telah dibuat dan harus diselesaikan oleh pemerintah saat ini adalah membatalkan perizinan pembangunan Teluk Benoa dan Presiden membatalkan Perpres No.51 tahun 2014 dan mengembalikan Teluk Benoa sebagai wilayah konservasi sekaligus menjaga kesuciannya. Sudah menjadi kewajiban para generasi penerus untuk mempertahankan niat luhur para pendiri untuk menjaga keluhuran Sanur dengan kemampuan yang ada sampai kapanpun.

Kelestarian adat, seni, budaya dan lingkungan telah menjadi harga mati yang tak dapat ditawar lagi demi terjaganya keajegan Sanur. Percepatan pembangunan yang tak terkendali akan menghadirkan banyak risiko. Oleh karena itu yayasan ini berupaya ikut memberikan pertimbangan kepada Pemkot Denpasar terhadap investasi yang akan masuk Sanur.  Kini bisa dirasakan hotel dan restoran di Sanur yang banyak dimiliki orang lokal tetap eksis dan lingkungan terjaga dengan baik. Nuansa Bali masih sangat terasa di Sanur, tidak seperti pusat pariwisata lain yang lebih berisik.

Tak berlebihan jika segenap pengurus YPS ingin berada di garda depan untuk menggapai tujuan menyejahterakan warga di antaranya melalui kepedulian melestarikan lingkungan dan bukan justru merusaknya. YPS  didukung tokoh banjar, desa, sesepuh adat dan para ida pedanda di Sanur tidak mau hal yang menimpa Sanur akibat reklamasi Pulau Serangan terulang kembali, apalagi di kawasan Teluk Benoa yang secara niskala adalah kawasan suci. Yayasan bersama warga Sanur akan selalu menjunjung tinggi keseimbangan dari filosofi segara-gunung, desa kala patra, hingga Trihita Karana.

Setahun lalu, tokoh spritual Bali, Ida Pedanda Gede Made Gunung mengajak semua pihak untuk kembali berpikir jernih dan merenungkan apa yang selama ini telah diperbuat. Berbagai program pembangunan yang lebih banyak berdampak pada perusakan alam kiranya segera dilakukan evaluasi, jangan memaksakan kehendak, terlebih hanya membela kepentingan investor. Keselamatan alam Bali dari kehancuran pada generasi mendatang perlu dipikirkan. “Untuk menyelamatkan Bali masyarakat harus berani berbuat,” kata Ida Pedanda Gede Made Gunung.

Ida Pedanda Gede Made Gunung mengatakan salah satu perjuangan dalam menyelamatkan alam Bali saat ini adalah penolakan rencana reklamasi berkedok revitalisasi jelas lebih banyak merugikan. Kondisi pantai selatan Bali yang biasanya dijadikan tempat melasti, pascareklamasi Pulau Serangan dampaknya telah dirasakan oleh warga pesisir. Reklamasi secara besar-besaran sangat merugikan Bali dan merusak tatanan nyegara-gunung yang telah dijaga selama ini.

Lebih lanjut, menurut Ida Pedanda Made Gunung, bahwa Hindu di Bali sangat lengkap dan kaya ajaran yang dapat membahagiakan kita semua dan lingkungan. Ajaran memanusiakan alam dan lingkungan ini harus dimulai dari memanusiakan diri sendiri, sebab yang mampu memanusiakan alam dan lingkungan hanyalah manusia. Setelah kita mampu memanusiakan diri sendiri, baru ajaran ini dapat mereka lakukan dengan sempurna. Sebaliknya bila manusia belum dapat memanusiakan dirinya, mereka akan tidak mampu memanusiakan lingkungan, sehingga alam dan lingkungan semakin ganas terhadap manusia.

Mengutip hasil dialog budaya Sanur Village Festival 2012  yang mengangkat Salampah Laku: Membumikan Pemikiran Ida Pedanda Made Sidemen bahwa Sanur berkomitmen menjaga konsistensi nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas yang mampu meneguhkan jati diri, kemandirian, dan kreativitas, seperti ditunjukkan Sanur dalam menjaga eksistensi sebagai desa pariwisata yang lestari dan harmoni.

Salampah Laku menggambarkan betapa kuat kemandirian dan jaridiri Ida Pedanda Made Sidemen sebagai seorang wiku memberi contoh pentingnya integritas diri dalam hidup ini. Dharma satya merupakan salah satu nilai spiritualitas yang ditekankan Ida Pedanda Sidemen, terlebih lagi dengan kebersahajaan memilih kehidupan desa yang penuh kemurnian, kesucian, dan kebebasan.

Mari kita tanami diri kita agar bisa bermanfaat bagi masyarakat dan bumi Bali, dan kita senantiasa diingatkan oleh Ida Pedanda Made Sidemen tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin. Mari kita jaga bumi Bali dengan tetap mengedepankan kearifan lokal untuk menjaga kesinambungan daya dukung alam-lingkungan terhadap aktivitas utama di Pulau Dewata: pariwisata yang dijiwai budaya dan berlandaskan ke-Hindu-an.


Frankfurt, 7 Maret 2016

*) Penulis adalah Ketua Yayasan Pembangunan Sanur