PAMERAN ENIGMA OF MASK: Suwidiarta & Budayana Meretas Teka-teki Topeng

Senin, 21 Desember 2015 : 08.22

Dua karya Suwidiarta (detil).
UBUD (inibali.com)—Seniman I Ketut Suwidiarta dan I Wayan Gede Budayana menggelar pameran seni rupa bertajuk Enigma of Mask, Tribute to I Wayan Tangguh di Museum Arma Ubud, yang dibuka untuk umm mulai Minggu (20/12/2015) petang.

Spirit perjalanan dan pencapaian seniman penatah topeng almarhum I Wayan Tangguh, telah menginspirasi dua perupa muda alumnus ISI Yogyakarta I Ketut Suwidiarta dan Wayan Gde Budayana. Mereka berdua melakukan pembacaan terhadap ketangguhan Tangguh dan menyajikannya dalam 30 karya yang dipamerkan hingga 16 Januari 2016 mendatang.

Membaca narasi topeng, senantiasa berujung pada sebuah pemahaman tentang sesuatu yang sakral, transenden bahkan bisa berakhir pada peristiwa spiritualitas. Apalagi di Bali, beragam topeng yang sakral selalu berdampingan menjadi penyempurna yadnya, persembahan bagi Yang Kuasa. Karena itu tak banyak seniman yang mampu menciptakan karya topeng dengan paradigma transendental.

Tangguh adalah seniman penatah topeng yang sohor asal Banjar Mukti, Singapadu, Gianyar yang dikenal memiliki kemampuan hebat yang tercermin melalui karya-karyanya yang tampak seperti dilebur dalam getaran-getaran taksu yang mengagumkan.

Kesetiaan Tangguh pada pakem dalam mengatur ruang dan waktu menurut metode perhitungan tradisi telah melandasi sikap kesehariannya dalam berkarya. Tak heran jikakarya Tangguh banyak yang disucikan sebagai simbol Dewata —pretima— di berbagai pura, serta dikoleksi museum dan kolektor dari dalam mauun luar negeri.

Pameran di pengujung tahun ini mengupas teka-teki tentang subjektivitas topeng, khususnya dalam kehidupan manusia terkini. Barangkali tidak seperti yang tergayut di benak Tangguh, topeng saat ini acapkali menjadi refleksi terbalik tentang sifat manusia. Topeng mengandung analogi wajah-wajah manusia yang ketakutan dan kehilangan kejujuran untuk tampil sejati di permukaan, sehingga mereka musti menghalangi wajah aslinya dengan wajah buatan.

Di jagat demokrasi, topeng adalah benda paling sederhana untuk bersembunyi. “Topeng yang sekarang sifatnya telah bergeser menjadi profan, dalam berbagai kepentingan ia bisa menjadi senjata untuk menumbangkan orang lain. Ini sebuah enigma yang berbanding terbalik dengan filosofi yang dianut Bapa Tangguh.” tutur Suwidiarta.

Suwidiarta yang pernah mendalami seni di India menjelaskan secara kasat mata karya sang maestro topeng Wayan Tangguh menjadi pijakan kreatifnya dalam berproses. Hanya saja ia terbaca agak liar dalam merekonstruksi gagasan melalui pendekatan parodi sosial yang aneh dan aktual.

Pesan dan sentilan atas kejadian-kejadian konyol di Tanah Air menjadi tambang inspirasi yang dipadukan dengan warisan estetika dari Tangguh rupanya menjadi bagian yang penting dalam ekplorasi karya Ketut. Penguasaan teknik drawing yang diramu dengan warna-warna pastel memberi kesan kesungguhan visualnya.


Karya Budaya (detil).
Sementara itu Wayan Gde Budayana. Salah satu cucu Wayan Tangguh, tampil dengan olahan bentuk-bentuk topeng dalam visual yang dekoratif dan ornamental. Serupa dengan rekannya, Buda juga menggeluti teknik drawing pen dengan tekun.

Pertautan jiwanya yang dikisahkan dengan mahluk-mahluk primitif tampak dibuat saling bersilang dibalut coretan tradisi yang kental, menyuguhkan kesan yang tak bisa dibantah, bila perupa muda ini kesehariannya tak dipisahkan dengan aktivitas kesenian yang dilakukan keluarganya di kampung. Tangguh telah memberikan arah dan tekad yang tangguh kepada cucunya, Budayana untuk berlaku tekun dan jujur dalam mewujudkan karya.

“Setiap kali saya mencoba keluar dari sini, ternyata saya sudah kembali lagi di sini,” tutur Budayana menyitir keinginannya untuk mencoba jalan rupa yang lain dari sikap berkesenian yang komunal dalam keluarganya. (I Wayan Redika)