Dosen STP Bali I Wayan Mertha Raih Gelar Doktor

Kamis, 17 Desember 2015 : 17.11

Foto I Wayan Mertha Dosen Pariwisata STP Bali Raih Doktor


DENPASAR (inibali.com) -Keterlibatan masyarakat dalam mewujudkan destinasi pariwisata berkualitas,  cukup berperan positif  dan signifikan. Justru sebaliknya, peran pemerintah malah tidak signifikan pengaruhnya terhadap peningkatan sebuah destinasi pariwisata yang ada.

Hal tersebut disampaikan oleh  I Wayan Mertha saat menjalani ujian terbuka Doktor Program Studi Ilmu Ekonomi Program Pascasarjana Universitas Udayana, di lantai 3 Gedung Pascasarjana, Unud Sudirman, Kamis (17/12/2015).

Dalam disertasinya  berjudul “Partisipasi Masyarakat Dan Peran Pemerintah dalam mewujudkan Destinasi Pariwisata Berkualitas”, dengan obyek penelitian di Kawasan Batur Global Georpark Kintamani, Bangli. Dosen Pariwisata STP Bali ini mempertahankan disertasinya didampingi Promotor Prof. Dr Drs. Made Kembar Sri Budhi, MP dan sukses meraih gelar Doktor dengan hasil sangat memuaskan,  (IPK 3,82). Dan disertasi ini diharapkan menjadi masukan bagi pihak terkait baik stake holder, masyarakat maupun pemerintah.

Dalam temuannya, Wayan Mertha mengungkapkan,  penelitian tentang partisipasi masyarakat local yang dinilai cukup berpengaruh positif terhadap kualitas destinasi pariwisata khususnya di kawasan Batur. Ditinjau dari partisipasi masyarakat di wilayah Batur Global Geopark lebih didorong oleh motif masyarakat local agar mereka dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Sedangkan peran pemerintah belum mampu memberikan  pengaruh yang nyata terhadap peningkatkan kualitas destinasi Batur Global Geopark Kintamani. Kualitas destinasi terbukti siginifikan mempengaruhi tingkat kepuasan masyarakat meskipun hanya terefleksi pada dimensi ekonomi dan sosial budaya.
Sementara dimensi emosi dan tingkat keselamatan masyarakat belum bisa direfleksikan secara signifikan.

“ Awalnya kami merasa ragu, dan hati kami terganggu kenapa peran pemerintah belum dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama dalam hal mengembangkan dan meningkatkan kualitas destinasi, dan setelah kita lakukan pendekatan kepada para tokoh, pihak –pihak yang ada di kawasan Batur, nyatanya menunjukan hasil demikian,” jelas Wayan Mertha dihadapan para penyangga dan undangan yang hadir dalam sidang terbuka tersebut.

Lanjut, Wayan Mertha sejauh ini, masyarakat menganggap kebijakan atau ketegasan pemerintah dinilai kurang tegas dalam menegakan aturan. “ Disini, eksekusi pemerintah masih lemah,  semisal masalah galian C, penertiban dagang acung, kenyamanan penyeberangan ke Trunyan, sudah berulang kali menjadi topic hangat tak pernah tuntas dalam penegakan aturan, dan bagi kaca mata masyarakat local disana,  kenyamanan destinasi seperti itu sangat mengganggu apalagi bagi wisatawan, ” bebernya.

Dan dalam penelitian ini, Wayan Mertha merekomendasikan  hasil analisis data dan kuantitatif maupun kualitatif temuan penelitian ini menyarankan pemerintah Kabupaten Bangli melengkapi peran regulative dan distributifnya dengan tindakan penegakan aturan (low enforcmen) secara konsisten. “ Aksi –aksi pemerintah pada aktifitas kepariwisataan di wilayahnya agar dirancang sedemikian rupa sehingga merasakan manfaat dengan segera dan berkelanjutan, ” saran pria kelahiran Kedonganan 1 Januari 1963 ini.

Usai sidang Wayan Mertha yang kini resmi bergelar Dr. Wayan Mertha menyebutkan, pemerintah harus melibatkan stake holder lainya untuk memperkuat dan menjalin kerjasama dalam upaya meningkatkan kualitas destinasi pariwisata. “ Pemerintah perlu mengandeng tokoh –tokoh atau pemimpin (informal leader) setempat, sehingga komunikasi serta kerjasama membangun kawasan yang berkualitas bisa tercapai,” terang suami dari Desak Putu Irianti yang sudah dikaruniai 3 anak itu.(dea)