Ancaman Pariwisata Bali, Mulai Isu Teroris, Ormas Hingga Tak Lagi Wisata Budaya?

Kamis, 24 Desember 2015 : 18.40


Foto Aktrasi Seni Oleh Para Seniman Bali (istimewa)


DENPASAR (inibali.com) - Pariwisata Bali yang dikenal dengan  budayanya kian diuji. Isu teroris yang merebak di sejumlah negara, ormas yang bikin resah,  hingga pariwisata Bali bergeser dari pariwisata budaya menjadi pariwisata ‘Entertain’ telah mengancam Bali, sungguh menyedihkan?

Jikalau benar demikian, maka hal ini menjadi ancaman serius bagi Bali, yang menjunjung nilai –nilai luhur budayanya yang semakin tergerus dihamtam badai. Seperti diungkapkan kalangan akademisi Dr Gede Sudjana Budiasa disela menguji doctor belum lama ini di Universitas Udayana, pihaknya mengkhawatirkan perkembangan pariwisata Bali mulai bergeser.

 “ Pariwisata Bali belakangan ini sedang mendapat ancaman serius, kalau pariwisata Bali yang dikenal adalah budayanya, justru bergeser menjadi pariwisata entertain, benarkah demikian, “ ucap Dr Sudjana.
Pihaknya berharap para praktisi, budayawan, pemerintah , tokoh masyarakat pariwisata di Bali agar mewaspadai hal tersebut. “ Tentu menyedihkan dan mengkhawatirkan kalau benar Bali mulai bergeser menjadi destinasi entertain,” tandasnya.
 
Kalangan pelaku pariwisata menanggapi serius kondisi Bali saat ini, dimana  justru Bali memiliki kekuatan budaya menjadi daya tarik utama para wisatawan mancanegara datang ke pulau ini. Entertain yang mungkin dimaksud konotasinya  mungkin negative , semisal tarian skriptis,  hal itu sangat  menyedihkan pasti.

“ Entertain ‘negatif’ harus ditertibkan semisal tari skriptis yang seronok, serba wah dan brandingnya lebih dikenal wisatawan, maka bahaya bagi Bali, akan tetapi produk  entertain yang dimaksud sebagai pendukung destinasi seperti tarian tradisi, balih –balihan yang harus kita tampilkan sudah wajib bagi pemilik hotel, tempat –tempat pemangungan seni ini dipertontonkan, ” jelas IB Sidharta Putra pemilik Griya Santrian Sanur.

Begitupun, market yang cukup besar bagi pelaku industry wisata  perbelanjaan. “ Jadi sah-sah saja, berwisata sambil shooping, agar tidak menoton, atau tidak bosan, factor pendukung yang disebut hiburan perlu ada, begitupun obyek alternative, hanya saja kitalah sebagai masyarakat sekitar mau ga menjadi polisi, jangan pasar oleh –oleh menjamur melebihi kuota, hiburan malam tak terkendali,  begitupun pusat-pusat perbelanjaan modern lainnya dihabisi pihak luar, ya buat masyarakat local kita jelas menjadi ancaman,” kata pengelola Yayasan Pembangunan Sanur ini.
    
Dikatakan, pariwisata  Bali saat ini memang sedang kritis, malah boleh dikatakan lebih buruk dari Bom Bali 2012 silam. “ Saat ini pariwisata Bali kita rasakan lebih buruk dari Bom Bali, hal ini tak lepas dari isu yang merebak tentang teroris yang mengancam di sejumlah negara, banyak pelancong enggan berpergian jauh, karena lebih memilih keamanan, ini isu dunia bukan Bali saja, di Bali sendiri muncul masalah ormas,” keluhnya.

Masalah interen kita, lanjut tokoh Sanur yang akrab dipanggil Gus De ini,  kejadian ormas beberapa waktu lalu, sangat dirasakan. “ Teror global membuat kunjungan menurun,  November saja akupansi hotel rata-rata di Sanur juga mungkin ditempat lain hanya 25-30 persen saja, banyak tamu membatalkan kunjungan ke Bali, padahal mau tutup tahun, ini sangat parah, bagi pemilik usaha akomodasi sangat merasakan kesulitan ini,” bebernya.

Bagi pelaku seni, situasi Bali saat ini sduah diambang kehancuran. Pasalnya, Bali yang pertama harus disimak, dari pariwisata Bali yang basisnya pariwista budaya, sudah bergerak menjadi pariwisata masal. “ Artinya, bukan lagi industry pariwisata yang diliat, sekarang kita melihat tambang pariwisata, yang didalamnya ada eksploitasi. Baik alamnya, manusianya, yang sudah pasti mengancam pariwisata Budaya,” kata Kadek Wayhudita selaku praktisi seni.

Dikatakan, ketika mengangkat pariwisata budaya, Kadek Wahyu menuturkan yang tidak dipikirkan selama ini adalah budaya pariwisata . “ Hal ini terkait regulasi, memperkuat budaya, perhatian mengelola manusia seninya,  karena  indentitas budaya Bali mulai hilang, yang terlihat malah  akomodisinya , hotelnya, obyeknya, sedangkan seniman kita masih menjadi ‘lipstick’ pemanis di bibir saja. Pertanyaannya benarkah Bali menjadi “The Last Paradise” atau malah justru menjadi “The Lost Paradise”, “ ungkap Kelian Penggak Men Mersi ini.(Dea)