Ten Art Geber 33 Karya di Santrian Gallery, Sanur

Minggu, 08 November 2015 : 10.44



DENPASAR (iniBali.com) - Kebersamaan dan  kekompakan yang dipertaruhkan selama sepuluh tahun (satu decade) oleh kelompok perupa yang satu ini sudah dilaluinya.  Mereka adalah  Ten Fine Art Sanur(Ten FA), yang kini membuktikan diri dengan menggeber 33 karya dalam sebuah pameran  di Gallery Santrian,Sanur,  30 Oktober – 30 September mendatang.

Mereka antara lain, I Made Budi Adnyana, I Made Dolar Astawa, I Ketut Teja Astawa, I Wayan “ Apel” Hendrawan, I Wayan Muliastra, AA. Ngurah Paramartha, I Wayan Paramartha, Ida Bagus Putu Purwa, I Made “Romi” Sukadana dan Vinsensius Dedy.

I Wayan Seri Yogaparta selaku pengamat sekaligus penulis mengatakan, ada kesederhanaan yang tidak muluk-muluk, sehingga kelompok Ten Fine Art ini bisa bertahan selama 10 tahun. “ Ten salah satu kelompok perupa yang paling inten di Bali saat ini, mereka telah membuktikan diri secara terorganisir menggelar berbagai kegiatan pameran- pameran sebelumnya,” kata Seri Yogaparta. disela pameran.

Dikatakan,  mereka mengambil spirit yang begitu dekat dalam kehidupan keseharian, yaitu dari kehidupan sosial di Bali dimana kebersamaan adalah yang utama dalam sistem banjar.  Kebersamaan itu tidak hanya dimaknai sebagai kumpul –kumpul bareng dan guyub semata, karena di dalamnya ada visi tersirat.

Walaupun tak pernah mereka nyatakan dalam penyataan lateral, kreativitas yang selama ini mereka wujudkan dalam karya –karya bersama melalui program pameran regular jelas menunjukan hal itu.  “ Pengalaman selama 10 tahun ini Ten FA mampu mengelola perbedaan keragaman, ego dan kehendak bebas setiap individu, sebagai kekuatan,” terang Yogaparta.

Sementara itu Wayan Dolar Astawa anggota Ten FA menjelaskan, berkumpul membuat kelompok ini bertahan hingga 10 tahun ini, disini kami acuannya mau menekan ego masing –masing.

“ Ego tidak hilang, tapi saling mengontrol, saling memberi dan menerima saran, sehingga kelompok Ten FA ini masih bisa bertahan, walau dari tempat atau markas kami sudah tidak ada lagi,’ jelas Dolar mewakili teman –temanya.  

Salah satu karya kebersamaan yang telah diwujudkan adalah karya Fenomena, tahun 2005, 250 X 500 cm, mixe media dia atas kanvas. Dolar menceritakan, bagaimana tantangannya masing –masing perupa membuat karya bersama-sama di atas kanvas yang sama.

“ Tentu saja ada kesulitannya, tidak sama dalam pandangan, namun tetap menjadi keutuhan karya yang kita bisa saksikan dan simpan hingga kini,” terangnya.

Sejak awal berdirinya Ten FA, dimana ditandai dengan kelahiran perupa ini dalam wujud karya dengan ide ketelanjangan. Dan dalam pameran ini kami khusus menyajikan karya-karya ekspresi diri dari pelukisnya masing –masing.

“Ada potret wajah kami pajang, kami simbolkan sebuah kebersamaan,inilah wajah kami saat ini dengan wajah –wajah ini kami bingkai tanpa ada sekat, dalam satu frame, ini menunjukan kelekatan kami hingga bertahan selama 10 tahun,” pungkas Dolar.(dea)