Dwitra J. Ariana Antara Film dan Tani

Minggu, 29 November 2015 : 17.14

Dwitra J Ariana
DENPASAR (inibali.com) - Menekuni dunia film documenter, tak serta merta dituntut mampu mengoperasikan alat secara teknik semata. Melainkan wawasan  di bidang pendidikan dan kemampuan kehidupan sangat menunjang pembuatan film documenter.  Terlebih mengungkap konten tentang pertanian.

Salah seorang filmmaker Bali Dwitra J. Ariana sangat getol membuat film seputar pertanian.  Ia menyebutkan pemahaman pertanian sangat dibutuhkan oleh seorang pembuat film dokumenter.

“Kita harus paham seluas-luasnya di berbagai bidang dari berbagai disiplin ilmu, mencari metode tidak saja mengandalkan wawancara saja, melainkan secara langsung merasakan permasalahan, historinya ada, pinter bergaul dan tentunya karyanya bisa diterima masyarakat,” ucap Dwitra, saat ditemui di Denpasar.

Pria kelahiran Bangli 1 Juli 1983, pernah mengenyam pendidikan  di bidang hukum, teknik dan ISI Denpasar. Dengan pengalaman pendidikannya itu, sangat membantu dalam menjalankan pengerjaan  bikin film.  “Film dokumenter tidak cukup sinematografi saja, jadi banyak hal harus dipelajari, contohnya saya yang lahir dari keluarga petani, sangat merasakan permasalahan petani, ini menjadi bahan dan media ketika saya mengerjakan sebuah garapan film,” kata pria asal Desa Jeruk Mancingan, Susut Bangli.

Antara dunia film documenter dan petani yang dia lakoni, menurutnya petani tak bisa dilepaskan. “ Tentang tani, kenapa saya bertani organic saat ini, karena  keluarga saya adalah petani. Prinsip orang tua dulu, dasarnya bertani, tapi jiwa berkesenian tumbuh. Nah, saya bertani, punya hoby membuat film, ada korelasi begitu kuat terjalin, jadi saya tertarik menggarap film documenter mengenai pertanian,” jelasnya.

Bicara kesenian Bali cukup berkembang dibandingkan daerah lain. Lanjut Dwitra,  berdasarkan budaya agrarislah, Bali bisa mewariskan  kesenian hingga kini, dimana begitu dekat dengan senimannya, dan sebaliknya  realitanya sekarang seniman kita justru  semakin menjauh dengan budaya agraris.

“Kebanyakan dulu berkesenian bisa merasakan dan mencari inspirasi di seputar pertanian,  sehingga karya-karyanya yang dihasilkan memiliki taksu, nah ini yang kita ingin kembalikan ketika membuat film dokuemnter dan saya lakoni sebagai petani,” cerita Dwitra yang filmnya berjudul Dhega-Dhega, diputar keliling Asia Tenggara itu.

Menjaga hubungan sosial cultural di Bali, Dwitra kendati tidak aktif di Banjar, tapi ia berusaha terlibat aktif di segala kegiatan adat di desanya. Tentang karya, film bertemakan tani diantaranya , proyek terakhir film berjudul “Pakeling” (2014), yaitu cerita benturan pemikiran anak muda dengan orang tua atau petani. Film sedang digarap saat ini “ Petani Terakhir” (2015),  berikutnya ada garapan tentang sub kultur agraris,  hanya pendekatan sosill cultural rekonliasi 65.

“Kunci membuat film dokumenter, buatlah film tentang kehidupan yang paling dekat dengan kehidupan anda,” ucapnya.

Prestasi “Pakeling” masuk kompilasi Indonesia Raja 2015,  selain itu karya Dwitra masuk nominasi Piala Citra, 2011 dan  nominasi AFI 2012.  Sempat worshop produksi dari Ecco Film yang disponsori oleh Ford Fondation, dan Kedutaan Kerajaan Belanda, di Jambi Kerap diajak pihak tertentu untuk membuat film Folow twiter@dwitrajariana , di Bali Dwitra menghimpun teman –teman filmmaker Bali,bernama  forum Braya Film. Dan membuat Sanggar Siap Selem yaitu menghimpun anak –anak yang ada di desanya. (dea)