Selamatkan Wayang Wong

Senin, 30 November 2015 : 19.16


DENPASAR (inibali.com)-Kesenian klasik Wayang Wong di Bali, adalah  satu diantara seni tari tradisi Bali yang keberadaannya hampir punah. Kesenian klasik Wayang Wong masih belum tersentuh dengan polesan modern, maka perlu diselamatkan keberadaannya. Salah seorang dosen Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, Ketut Suteja mengatakan repitalisasi kesenian wayang wong, menjadi alternative untuk mempertahankan keberadaan wayang wong yang semakin punah keberadaannya itu.

Kesenian Wayang Wong kreatif, dari klasik menjadi tarian inovatif tanpa meninggalkan roh tariannya sehingga bisa menjadi komoditi industry terlebih Bali sebagai tujuan wisata. “ Saya melakukan pengamatan  wayang wong di Desa Bualu, Nusa Dua, disana wayang wong masih kita jumpai, tapi seiring zaman kesenian ini hanya bisa dipentaskan ketika ada upacara atau piodalan di Pura,” jelas Suteja.

Pertanyaanya bagaimana ‘pemaksan’ atau ‘pengempon’ Wayang Wong bisa melestarikan dengan dukungan pendanaan yang bagus, yang jelas Wayang Wong tak akan bisa dijadikan kesenian tontonan atau pertunjukan umum. “ Nah,  wayang kreatif inilah yang menjadi suport, sehingga saling mensubsidi, yang klasik tetap lestari, sedangkan pengembangan wayang kreatif bisa mengikuti perkembangan, menghasilkan dan bisa membiayai kesenian klasik itu,” ungkapnya.  

Lewat program Master Plan Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (MP3I), pihaknya telah mengusulkan repitalisasi kesenian Wayang Wong. Hasilnya, sudah ada sebuah garapan yang siap kita presentasikan, dengan konsep atau kemasan pementasan lebih kreatif. “ Garapan kesenian wayang ini lebih kekinian, tanpa meninggalkan karakter penokohan semisal dalam kisah Ramayana, ada tokoh Rama, Sugriwa, Hanoman dan sebagainya, tetap memiliki karakternya masing -masing, hanya saja lebih minimalis, memadukan dengan teknologi,” ucapanya.

Pada intinya, selain menjaga dan melestarikan sejumlah kesenian klasik di Bali,  kata Suteja dalam kontek pengembangan kekinian yang menjadikan kesenian tradisi tidak kehilangan rohnya. “ Seiring perkembangan kesenian kita dituntut mampu menjadi seni universal tanpa menghilangkan rohnya sebagai kekayaan seni Bali yang luar biasa, maka kedepan beragam kesenian Bali perlu ada standarisasinya, mana pakem seni tradisi dan mana seni kotemporer,” pungkasnya. (dea)